Bag 2: Mewawancarai Errol – Hidup adalah pertunjukan

Salju turun begitu lebat di hari saya mewawancarai sutradara dan penulis Errol Morris. Itu tepat minggu lalu. Hari ini, kristal-kristal putih kecil itu kembali berjatuhan dari langit. Saya seperti berada dalam mainan globe salju.

Film dokumenter terbaru Morris, “The Unknown Known”, lahir dari rasa penasaran Morris terhadap butiran salju (snowflakes) yang berbeda dari kristal putih yang saya lihat dari jendela saya di Sommerville, Massachusetts. Snowflakes yang ini adalah ribuan memo internal mantan menteri pertahanan Amerika Serikat Donald Rumsfeld dalam kabinet George W. Bush. Termasuk dalam ribuan memo internal tersebut adalah “torture memos” yang mengizinkan penyiksaan dalam interogasi tersangka tindakan terorisme.

Morris telah memproduksi berbagai karya mengenai perang dan ketidakadilan. Sebelum “The Unknown Known”, ia membuat “Standard Operating Procedures” mengenai skandal penjara Abu Ghraib; juga “The Fog of War”, di mana ia mewawancarai mantan menteri pertahanan AS masa perang Vietnam Robert McNamara.  Yang membuat saya penasaran adalah, film-film yang ia buat kebanyakan memperlihatkan betapa keadilan sulit di jangkau. “Tidak ada penebusan dosa dalam apa pun,” Morris berkata.

Saya sedang dalam proses menulis sebuah profil tentang Morris, tapi ada beberapa hal yang bisa saya bagi dalam blog ini.

Hal yang paling mencolok mengenai Morris adalah pandangan hidup yang pesimistik namun digabungkan dengan rasa humor yang tinggi. Saya bertanya bagaimana ia mempertahankan kewarasannya dalam dunia yang penuh ketidakadilan. Ia menjawab: “Bagaimana kamu tahu saya waras?”

Ia menganggap bahwa film tidak benar-benar dapat mengubah situasi dunia, meskipun dalam hati yang paling dalam, ia tetap berharap film dapat membawa perubahan.

Film “The Fog of War” keluar di tahun 2003 ketika Amerika Serikat sedang mempersiapkan perang. Dan jelas, film tersebut tidak menghentikan para politisi Gedung Putih untuk menyerang Iraq meskipun mereka tidak memiliki bukti keterkaitan Iraq dengan kelompok terroris Al-Qaeda yang menyerang Menara Kembar di 9/11 ataupun bukti Iraq memiliki senjata pemusnah massal.

Morris juga adalah produser eksekutif dari film “Jagal”, film di mana algojo “komunis” di tahun 1965 merekonstruksi bagaimana mereka membunuh ratusan orang. Ia mengatakan bahwa ia sangat kagum dengan sutradara “Jagal” Joshua Oppenheimer, namun ia dan Oppenheimer memiliki pandangan yang berbeda dari pelajaran yang bisa diambil dari film tersebut.

“Saya ingin berpikir bahwa film Josh berdampak kuat di Indonesia. Tetapi apa tujuannya? Apakah tujuannya untuk membuat orang-orang mengaku mereka telah melakukan sesuatu yang buruk? Kita tidak akan pernah melakukannya lagi? Kita akan menjadi baik mulai dari sekarang? Saya tidak yakin bisa seperti itu. Saya pikir, untuk saya, ini lebih tentang rasa keingintahuan. Apa yang mereka pikir saat itu? Apakah mereka berpikir?”

Beberapa bulan yang lalu saya mewawancarai sutradara Jagal Joshua Oppenheimer dan baginya kesombongan dari para pembunuh tahun 1965 dalam film Jagal adalah bukti kemanusiaan mereka. Bagi Oppenheimer, kesombongan mereka bukan berasal dari ketiadaan moral, tapi bukti kemanusiaan mereka.

“Ironinya adalah bahwa sumber kejahatan tersebut bukan karena para pelaku adalah orang yang jahat dan immoral, tapi karena mereka manusia dan mereka adalah makhluk yang bermoral dan mereka mengetahui perbedaan benar dan salah, dan tepat karena mereka makhluk bermoral dan bukan immoral mereka harus berbohong pada diri mereka sendiri untuk melindungi diri mereka dari terror rasa bersalah,” Oppenheimer berkata dalam wawancara saya.

Morris mempunyai pandangan yang berbeda dari Oppenheimer.

“Saya mengambil sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang Josh ambil dari filmnya, yang mana tidak masalah sebenarnya. Saya cinta film tersebut dan saya cinta Josh, dan saya sangat bangga terhubung dengan film itu,” Morris berkata.

“Saya merasa bahwa entah bagaimana, semua yang ada dalam hidup ini adalah pertunjukkan, dan kita sama sekali terpisah dari diri kita sendiri dan dari apa yang kita lakukan dan dengan siapa diri kita dan makna dari semua tindakan kita,” ia berkata.

“Bagi saya, Anwar adalah manusia sungguhan dan seorang pembunuh sesuai dengan pengakuan dia sendiri. Sepertinya dia bermain suatu permainan dengan dirinya dan dengan kita, yang mana saya pikir luar biasa, dan dengan Josh!”

Saya terkesima mendengar pandangan Morris, dan ia berkata: “Yah, bagaimanapun saya memandang semua hal dengan lebih pesimistik, saya yakin, dibanding Josh”.

Bagaimanapun, bagi saya karya-karya Morris dan Oppenheimer memberi banyak hal bagi banyak orang untuk berpikir, dan itu adalah hal yang paling penting untuk mencegah orang-orang untuk melakukan hal-hal buruk: membuat orang untuk memikirkan tindakan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s